Film hari ini dipahami sebagai karya seni yang menyampaikan cerita atau gagasannya melalui medium audio dan visual. Namun, film itu sendiri merupakan sebuah benda berbentuk pita penangkap cahaya. Jauh sebelum era digital, produksi film menggunakan gulungan pita film, yang mulai dari tahap produksi hingga pascaproduksinya mengandalkan teknik analog. Dibandingkan bidang seni lain, film diminta untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal tersebut tak hanya memengaruhi kegiatan produksi film, namun juga cara menonton film. Teknologi pemutar film pun terus berubah. Mulai dari DCP, VHS, DVD, dan saat ini kita dapat menikmati film melalui kanal-kanal online yang tak memiliki bentuk secara fisik seperti medium putar pendahulunya. Medium putar lama seiring waktu akan digantikan dengan medium putar baru.
Transformasi teknologi menikmati film yang lekas ini menciptakan jarak pengalaman antara satu generasi dengan generasi-generasi berikutnya. Sebelumnya film-film hanya dapat ditonton di bioskop, di gelaran layar tancap atau di televisi. Hari ini cukup dengan memiliki kuota internet, kita dapat menyaksikan film di telepon seluler dengan waktu yang dapat kita tentukan sendiri. Dahulu, menonton film selalu menjadi sebuah pengalaman kolektif. Hari ini kita dapat memilih untuk menikmatinya sebagai aktivitas bersama atau pengalaman personal.
Ketika zaman berlalu dan teknologi semakin mutakhir, masih ada banyak orang yang betah merawat cara-cara lama dalam menikmati film. Alasannya tentu bukan menyangkut hal-hal praktis, namun lebih menitikberatkan pada pengalaman dan romantisme masa lalu. Salah satunya adalah Nur Iyan, pengusaha layar tancap yang masih menyewakan film dalam bentuk seluloid 35mm untuk pemutaran layar tancap. Cerita tentang Sinema di Sudut yang Lain (Hariwi, 2019) merekam kegiatan Nur Iyan dalam mengelola usaha layar tancapnya, sekaligus mengajak penonton bernostalgia dengan layar tancap dan film-film Indonesia klasik.
Bang Iyan, panggilan akrabnya, mengumpulkan film dalam format 35mm sejak 2003. Ia membelinya sedikit demi sedikit dari kenalan pengelola bioskop. Kini koleksinya mencapai 350 film. Seluruh koleksinya ia tumpuk di dalam sebuah ruangan di rumahnya, dengan perawatan seadanya. Pelanggannya adalah para pengelola layar tancap di beberapa kabupaten, mulai dari Bogor hingga Bekasi yang tergabung dalam Persatuan Layar Tancap Indonesia (PLTI). Per judul disewakan dengan harga tak lebih dari seratus ribu rupiah. Sembari mampir mereka akan bertukar tentang film-film apa saja yang paling diminati. Film-film Indonesia klasik masih menjadi favorit penonton layar tancap hari ini, seperti Jampang (M. Abnar Romli, 1989), Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), dan film-film yang dibintangi Rhoma Irama. Sementara film India dan film-film Barat kini tak lagi dirayakan oleh penikmat layar tancap. Penontonnya kebanyakan adalah generasi tua yang ingin bernostalgia dengan pengalaman menonton layar tancap. Sesekali Bang Iyan juga menerima permintaan pemutaran layar tancap di acara hajatan di desa-desa pelosok.
Yang dilakukan Bang Iyan bukan semata-mata menyambung hidup atau merawat nostalgia penikmat film klasik. Namun secara tak langsung ia juga melakukan pengarsipan film-film klasik. Dalam ekosistem perfilman, kerja-kerja pengarsipan belum menjadi hal yang banyak disorot. Di Indonesia, terdapat lembaga arsip bernama Sinematek Indonesia yang didirikan tahun 1975 oleh Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani. Meskipun demikian, koleksi yang ada di dalamnya telah melalui tahap kurasi. Inisiatif-inisiatif akar rumput sebagaimana yang dilakukan Bang Iyan berperan dalam menambal kekosongan pengetahuan terhadap film-film klasik. Sebab apa yang disebut sebagai sejarah semestinya tak hanya terbatas pada hal-hal yang dianggap penting.
Selain menampilkan keberlanjutan bisnis Bang Iyan, film dokumenter ini juga memperlihatkan bekas perusahaan film di Malang yang kini ruang dan koleksinya berakhir sebagai artefak. Koleksi-koleksinya tak lagi dianggap bernilai. Lalu apa yang membuat bisnis Bang Iyan tetap Berjaya ketika perusahaan-perusahaan lain memilih menutup usahanya? Bang Iyan membaca dengan baik publik dan pasarnya. Ia tidak terjebak pada romantisme kejayaan layar tancap terdahulu. Alih-alih, ia berusaha mengkontekstualisasikannya dengan hari ini. Dahulu boleh jadi menonton film seperti ritual. Orang harus jalan berkilo-kilometer untuk menonton layar tancap. Bahkan menurut Bang Iyan, dulu mereka bisa begadang hingga pagi untuk menonton 5 film berturut-turut. Kini, Bang Iyan tidak bisa menampik jika layar tancap tak bisa dipaksakan untuk tetap signifikan. Namun ia perlu dihadirkan dengan peran baru. Sebagai sarana untuk bernostalgia, hiburan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah, dan hiburan hajatan di area pelosok. Ia menjadi bagian dari acara karaokean, dan dangdutan di kampung-kampung. Meskipun layar tancap kini harus menerima nasib bahwa ia bukan lagi bintang utama, namun ia tetap ada dan dicintai.